Saturday, 17 April 2010

Pentingnya Nilai Budayaku

Tidak ada orang yang akan mengetahui masa depan, mengetahui apa yang akan terjadi pada dunia ini, negara ini, dan bahkan diri sendiri. Hanya satu yang di ketahui ialah bahwa dari hari ke hari, dunia akan menjadi semakin sempit. Jarak tidaklah menjadi masalah untuk menghubungkan negara Indonesia dengan negara- negara lainnya seperti Australia, Amerika, Eropa, China, dan masih banyak lagi. Kemudahan bertukar informasi membawa nilai budaya baru bagi Indonesia.

Umumnya perubahan nilai- nilai budaya banyak didapati di golongan remaja zaman sekaran karena pada masa remaja, ialah masa dimana mereka mencari jati dirinya. Oleh sebab itulah, ada baiknya sebagai remaja Indonesia, mereka mengetahui pentingnya nilai budaya sendiri sebelum membuka diri untuk tawaran- tawaran yang disediakan dari masa multikulturalisme ini. Sudah tidak jarang ditemui anak- anak remaja memakai pakaian yang kurang sopan di tempat- tempat umum seperti mall dan lain- lain. Ini ialah salah satu dari berbagai dampak masuknya budaya negara lain.

Tentu budaya- budaya yang masuk ini tidaklah semuanya buruk, karena masuknya budaya ini menambah wawasan masyarakat seperti menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi serta menerapkan sistem yang lebih effektif dalam organisasi- organisasi, namun dampak buruknya lah yang harus sangat diperhatikan. Seperti contoh, kesopanan yang dijunjung tinggi warga Indonesia telah terancam ‘punah’ karena banyak anak remaja sekarang mengikuti cara berbicara yang berani mengungkapkan perasaan mereka. Keterbukaan bukanlah suatu hal yang buruk, namun jika keterbukaan itu beranjak menjadi suatu tindakan yang kurang ajar, seperti membantah orang tua dengan kasar, tentulah harus di tindak lanjuti.

Nilai budaya haruslah diambil dengan serius. Remaja harus menyadari bahwa nilai budaya asal yang mereka miliki sangatlah penting. Karena dengan mengetahui nilai budaya asal, konflik antara masyarakat senior dengan remaja dapat di perkecil, karena adanya pengertian dari anak- anak remaja akan apa yang orang tua ingin mereka lakukan. Tentunya jika konflik dapat di perkecil, kehidupan setiap anak- anak akan menjadi lebih baik. Namun begitu, mungkin ada baiknya pula bagi orang tua untuk lebih terbuka dengan hal hal positif yang dibawa oleh budaya- budaya negara lain seperti memiliki pemikiran yang panjang dan terbuka akan masukan.

Friday, 16 April 2010

Norma yang Terlupakan

Indonesia ialah negara bagian timur yang sangat menjunjung tinggi nilai tradisinya. Warga negara Indonesia sejak kecil sudah di didik dengan norma- norma yang merupakan warisan dari nenek moyangnya. Kesopanan dan menghargai diri serta hidup sesuai ajaran agama merupakan hal- hal yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakatnya. Namun begitu, dengan bergulirnya waktu, nilai norma- norma ini mulai dilupakan satu per satu oleh generasi penerusnya. Dengan masuknya budaya- budaya dari barat dan negara lainnya, norma yang ada di Indonesia menjadi kacau dan tidak memiliki peranan yang begitu signifikan dalam kehidupan masyarakatnya terutama generasi remajanya.


Seperti yang telah diketahui, telah terjadi banyak kasus tentang penggunaan obat- obat terlarang, anak remaja yang merokok, seks bebas, dan hal yang lainnya. Ini semua terjadi karena remaja jaman sekarang tidak memiliki norma dan kepercayaan yang di miliki oleh nenek moyangnya. Mereka tidak menghargai norma dan ajaran agama dan mengabaikannya. Ini berarti globalisasi telah membawa sebuah dampak buruk bagi nilai tradisi dari warga Indonesia. Dapat dikatakan demikian karena pada umumnya remaja Indonesia terpengaruhi melalui media massa yang ditampilkan oleh saluran saluran televisi. Hal itu dapat dilihat secara langsung dampaknya seperti cara berpakaian yang kurang sopan serta cara berbicara dengan orang yang lebih tua.


Oleh sebab itulah dapat di katakan bahwa para remaja jaman sekarang banyak yang melupakan norma tradisinya karena adanya pengaruh globalisasi. Tentu globalisasi telah membawa dampak yang baik seperti kemajuan teknologi dan menambah pengetahuan. Namun, efek samping globalisasi pun perlu di perhatikan. Ada baiknya bila di dalam komunitasnya para remaja di beri pengarahan agar mereka tetap memiliki nilai etika moral dan pengertian agama yang lebih baik, sehingga mereka dapat membedakan mana yang baik yang ditawarkan globalisasi, dan mana yang buruk. Tentunya bila mereka dapat membedakan, kejadian- kejadian tragis seperti penggunaan obat- obat terlarang atau pun seks bebas dapat di cegah dari dorongan diri anak- anak remaja Indonesia.

Tercandu Teknologi

Semenjak era globalisasi, dunia teknologi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Konon banyak orang berkata dunia di ibaratkan menjadi sebuah lahan datar dan bukanlah sebuah globe. Dengan kemajuan teknologi ini, komunikasi jarak jauh menjadi sangatlah mudah. Berkomunikasi dari sabang sampai ke merauke bukanlah hal yang mustahil karena teknologi membobol terobosan baru agar orang bisa berkomunikasi dengan siapa aja di atas muka bumi ini tanpa kesulitan. Hal itu di sebabkan oleh adanya jaringan internet yang menghubungkan seluruh sisi dunia menjadi satu dunia yang begitu kecil ya itu dunia virtual.

Sayangnya, dunia virtual ini bukan hanya membawa dampak yang baik bagi berlangsungnya komnikasi tetapi juga membawa dampak negatif pada kehidupan setiap penggunannya. Seiring berjalannya waktu, teknologi menjadi semakin canggih. Sudah tidak heran kita melihat orang berkoneksi selama duapuluh empat jam pada dunia virtual. Memang benar ada banyak diantara orang- orang tersebut menggunakan internet untuk menambah produktivitas mereka karena tentunya teknologi ini di gunakan untuk memudahkan komunikasi. Namun, banyak orang pula menyalah gunakan kemajuan teknologi ini. Orang- orang lebih banyak duduk di depan komputer atau bermain dengan telefon genggamnya sehingga mereka tidak memerdulikan keadaan sekitar. Dapat di ibaratkan bahwa secara fisik mereka berada di hadapan orang yang mereka temui, namun secara pemikiran, mereka berada di berbagai penjuru dunia.

Contoh yang konkret dapat di lihat dari kehidupan anak- anak remaja pada umumnya. Mereka lebih sering berinteraksi dengan komputer dan telefon genggamnya dibandingkan dengan orang tuanya dan teman- teman yang ada di sekitarnya. Mereka menggunakan sebagian besar waktunya untuk melakukan hal- hal yang kurang menguntungkan seperti bermain game dan berbicara via internet daripada mengerjakan pekerjaan- pekerjaannya dan bersosialisasi dengan orang lain, seperti jalan- jalan. Orang- orang seperti itulah yang biasa di kategorikan sebagai orang yang sudah tercandu dengan teknologi.

Maka dari itulah, hal utama yang dapat dilakukan untuk mencegah tercandunya dengan dunia teknologi ialah menyadarkan mereka bahwa mereka tidak tinggal di dalam dunia virtual tetapi ada begitu banyak orang yang dapat mereka temui dan bersosialisasi. Memang benar teknologi internet diciptakan untuk memudahkan komunikasi, tetapi ada berbagai jenis komunikasi yang tidak bisa di ucapkan dengan kata- kata saja tetapi juga membutuhkan aksi dari orang tersebut, seperti menghibur teman yang bersedih dan bermain dengan adik. Oleh sebab itulah, dapat disimpulkan bahwa teknologi akan menjadi hal yang sangat membantu jika orang yang menggunakannya dapat dengan bijaksana mengatur dirinya.